Marwah Yang Telah Hilang
Oleh: Arifudin Hanif
Dulu katanya kampus itu menara cahaya
Tempat akal diasah, nurani dijaga
Sekarang banyak yang bingung arah
Jalan kuliah ditempuh, tapi tujuan entah kemana
Si Aktivis berteriak di depan gerbang
Suara lantang, spanduk panjang terbentang
"Tuntut dia, rakyat melawan!" katanya garang
Tapi ditanya isi buku, ia menjawab bingung
Lupa, orasi tanpa ilmu hanya riuh tanpa arah
Si Akademisi tenggelam di tumpukan jurnal
IPK tinggi, tapi hati jadi dingin dan kaku
"Yang penting lulus, yang penting aman," gumamnya pelan
Lupa, ilmu tanpa kepedulian jadi hiasan dinding
Hidup untuk angka, mati untuk nilai
Dua sisi berdebat, saling tuding sesat arah
Yang satu lupa membaca, yang satu lupa merasakan
Kampus jadi panggung ego, bukan ruang belajar
Idealisme dijual murah, ilmu jadi pajangan.
Wahai mahasiswa
Kau bukan sekadar pengumpul SKS
Bukan pula mesin teriak tanpa isi
Kau pewaris akal, penjaga nurani
Fitrahmu: belajar, berpikir, lalu bertindak
Kembali lah
Ke perpustakaan yang berdebu karena ditinggal
Ke diskusi malam yang membakar kepala
Ke lapangan, bantu rakyat yang suaranya kau bawa-bawa
Jadikan aktivisme bermutu karena berilmu
Jadikan akademis hidup karena peduli
Kampus ini bukan tempat main peran
Ia ladang tempat kau ditempa jadi manusia
Sebelum terlambat, cek lagi kompas itu
Masih menghadap ke kebenaran, atau sudah ke panggung?
Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Semester 4
