Cinta dan Duri
Oleh : Abdul Aziz Al Mahdi
Cinta pernah datang
bagai bunga yang mekar di awal musim,
mengajarkan hati bahwa bahagia dapat tumbuh dari sebuah tatap.
Namun waktu tak selalu berpihak.
Harapan yang kupeluk perlahan gugur,
menyisakan tangkai tanpa kelopak,
dan duri yang tak henti mengingatkan.
Bagi mereka yang gagal meraih cinta,
setiap kenangan menjelma luka.
Senyum yang dulu menghangatkan kini hanya gema yang menyayat sunyi.
Tetapi barangkali,
duri bukan diciptakan untuk membenci bunga. Ia hadir agar hati belajar,
bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Maka biarlah luka menjadi guru,
dan kenangan menjadi jalan pulang.
Sebab cinta yang sejati
tak pernah salah—
hanya tak selalu berakhir dengan kebersamaan.
Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Semester 4
