Gurun Rindu tak Bertepi
Oleh: Muhammad Wildani Khisnullah*
Di bawah langit padang pasir yang tak bertepi,
Aku menanti jejakmu, samar dalam sunyi.
Angin membawa namamu di tiap butir debu,
Mengukir rindu yang tak henti dalam kalbu.
Oh, kekasih, kau seperti fatamorgana,
Hadir sekejap, lalu hilang di cakrawala
Aku terjebak di antara bayang-bayangmu,
Menyesap sepi dari jarak yang membelenggu.
Bintang-bintang menjadi saksi malam kita,
Ketika janji terikat dalam tatapan mata.
Namun kini, jarak menjelma gurun tak bertepi,
Kita terpisah oleh lautan pasir yang sunyi.
Aku berjalan di atas butiran waktu yang memudar,
Mencari oase dari rindu yang terus berkobar.
Namun, meski angin membisikkan kesunyian malam,
Hatiku tetap padamu, kekasih dalam impian.
*penulis adalah Mahasiswa BSA
semester 5
Rindu Laa Ma'na lahu Ba'd....
Oleh: Muhammad Wildani Khisnullah*
Seperti angin yang lelah dalam pelarian,
Rindu ini terombang-ambing di lautan waktu.
Ia hanyut, terbawa gelombang tanpa tujuan,
Bagai gurun yang hilang tanpa jejak wadi,
Tiada telaga, hanya fatamorgana yang sepi.
Dalam diam, bayangmu sirna dalam kabut senja,
Hati ini laksana samudera yang kehilangan arus.
Tersisa bekas di langit, seperti qamar yang memudar,
Tak ada lagi sapa yang mengisi jiwa,
Cuma gema, yang memanggil dari kehampaan fana.
Rindu, oh rindu, kini menjadi raungan tak bermakna,
Seperti tangisan burung di pagi yang bisu.
Kata-kata tak lagi tersusun, seperti ayat yang terputus,
Bagai aksara tanpa makna dalam suhuf yang terkoyak,
Tinggallah sunyi, tenggelam dalam lafaz yang tak terucap.
Kau adalah masa lalu yang tak lagi kukenal,
Seperti dzikir yang hilang dalam tarian debu.
Hati ini lelah, seperti kafilah yang kehilangan qiblat,
Tiada lagi petunjuk, hanya bayang yang pudar,
Meniti waktu yang tak lagi memberi harapan.
Dan kini, aku tersesat dalam labirin waktu,
Seperti bintang yang terjatuh dari falak tanpa peta.
Kerinduan ini tak lagi bersandar pada nama,
Ia musnah, seperti bayangan di ujung senja,
Hilang, tiada arti dalam sajak-sajak yang berdebu.
*penulis adalah Mahasiswa BSA
semester 5
Merindu akan raga yang gata.
Oleh: Mashlatus Salimah*
Sejatinya kau tahu bahwa hati yang terpikat olehmu itu bukanlah hati yang terpikat oleh paras yang Nirmala.
Bukan pula oleh nuraga akan kemalaan.
Kehadiranmu membuat pair jantungku tak beraturan.
Angan tentangmu menjadikan nadi ini bersyair dengan ketaksaan.
Sudah sangat jauh sekali aku merindukan sosok yang kehadirannya tak lagi dapat ku rasa.
Sudah terlalu lama ku menyembunyikan rindu yang kian hari kian bertambah.
Tuan.
masihkah kau memiliki kesempurnaan raga?
Masihkah kau menyimpan rasa?
Merindu bukanlah hal yang mudah tuan.
Mengemban rindu itu hal yang amat teramat berat.
Kenapa?
Karna rindu ini bukanlah rindu yang dapat menghadiahi temu.
Bukan pula rindu yang kenal akan balasan.
~ mamasla ~
*penulis adalah Mahasiswa BSA
semester 5
Ancala yang Kalut dengan Luka
Oleh: Nurkholisoh Octaviani Amelia Putri*
Kami termenung di pojokan sudut kota
Menatap puing yang sudah terbelah porak poranda
Dengan mata menunduk basah
Dan hati yang terlanjur patah
Cerita yang dulu kau banggakan
Kini menjadi cerita asing yang kau goreskan
Kisah yang dulu kau tuliskan
Kini menjadi kisah yang sekarang kau hapuskan
Ancala pun kalut dengan luka kami
Jelaga pun sudah lelah melihat kami
Menangis dalam diam
Di belahan manakah tuan berada, Ketika semesta terbungkam
Untuk kenangan yang bersenyawa rindu
Sudah lama kita tak sapa temu
Terpisahkan oleh rentang jarak dan waktu
Namun percayalah bahwa namamu yang slalu ramai aku perbincangkan dengan tuhanku
*penulis adalah Mahasiswa BSA
semester 5
