ANTOLOGI KARYA SASTRA : FOOTBALL WITHOUT VIOLENCE (Cerpen)


FOOTBAL WITHOUT VIOLENCE 
Oleh :Arifuddin hanif

KAKI KAKI YANG BERGERAK MENDUKUNG
Malang Di bawah jempatan fly oversuara keras menggema. Sekitar Radius 50 meter bumi terasa bergetar. Ratusan lelaki bergandengan tangan mengenakan pakaian serba hitam dengan spanduk bertuliskan "vinci per noi" membentang. Kaki-kaki itu terus berjalan menyusuri jalanan yang begitu padat. Beberapa kendaraan bermotor berhenti Menunggu rombongan hitam itu melintas. Bagaikan rombongan beruang hitam yang sedang meng inflasi Hutan. Tak ada  hentinya mereka Meraung.
Sekitar 2 kilo meter dari  kermunan hitam itu 1000 lelaki dengan memakai pakaian  Brand-brand ternama seperti : Adidas, Stone island, cp company, dan lain sebagainya. Sembari berjalan menuju stadion Mereka menyanyikan bersama sebuah lirik lagu " your Never walk Alone" dengan Nada bulat seakan ingin meruntuhkan lagit.
Di sisi lain, lima meter dari stadion kanjuruhan. telah kumpul sekelompok komunitas  dengan memakai pakaian serba kuning. Beberapa bendera besar dengan logo club  berkibar.

Salah satu orang dari komunitas itu, melangkah ke depan gerbang mengambil Alih massa. Setelah lima menit massa telah berbaris dengan rapih. Bendera- bendera besar itu telah berbaris berada di barisan paling depan. Berkibar dengan gagah. Disusul beberapa bendera- bendera kecil ukuran 4×3 di kibarkan oleh seluruh anggota komunitas. 

Di dalam stadion telah terpasang beberapa kamera besar yang siap menyiarkan siaran langsung sepak bola antara Arema malang dengan Persebaya surabaya. Para jurnalistik sudah bersiap-siap menduduki tempat yang telah di sedia kan. 

Jam menunjukan pukul 17.00—Squad pemain dari kedua tim telah tiba sekitar satu jam yang lalu. Dua jam sebelum pertandingan panitia mempersilahkan tim persebaya untuk berlatih selama satu jam  di dalam lapangan. Satu jam berikutnya di isi oleh tim Arema. 

Beberapa penonton sepak bola sudah memasuki Area stadion sejak pukul 3 siang. Dengan alasan Ramainya suporter yang akan memasuki stadion jika masuk satu jam sebelum pertandingan.  

Pertandingan akan dimulai pada pukul 19.00 beberapa suporter sudah menduduki area stadion. Di sisi selatan stadion telah sesak di isi oleh sekelompok suporter.

dengan pakaian hitam. Disisi timur stadion telah terlihat membiru. Dengan bendera-bendera besar berkibar di depan tribun. Di sisi utara bagian barat telah padat oleh sekelompok suporter dengan pakaian serba hitam dan spanduk besar bertulisakan " vinci per noi " bertengger di depan tribun. Begitupun Sisi utara bagian timur yang sudah terpenuhi oleh sekelompok manusia dengan mengenakan brand-brand ternama.

PRIIIIIIT!!! Di tiup Pluit panjang Menandakan pertandingan telah di mulai.


KAKI KAKI YANG BERGERAK DI ADU-DOMBA

Pertadingan telah usai dengan skor 3-1 di menangkan oleh persebaya. Beberapa suporter dari  sisi utara tribun merangsek turun ke lapangan. mereka menuju ke sisi selatan tribun. Pertempuran pecah dari bawah mereka melempar beberapa benda apaun ke arah tribun selatan. Pun dari atas mereka melepar benda apapun yang ada. 

Sekitar lima belas menit aparat datang  dikarenakan banyaknya massa dan kurangnya Aparat hingga  BOOM!!! Salah satu aparat  langsung terprovokasi menembakan gas Air ke arah kerumunan sehingga mengakibatkan terjadinya saling dorong antar manusia. Menyelamatkan diri. 

 Di luar kendali itu aparat menembakan lagi Gas Air mata yang kedua kalinya. Hingga yang ketiga. DOORR!!! DOORR!!!

Luasnya jangkauan gas Air mata itu. Hingga mengakibatkan penghuni tribun lainya terpecah belah menyelamatkan diri. Saat kekacauan tersebut terjadi 

aparat penjanga pintu lalai akan hal tersebut. Sehingga pintu masih terkunci. Setelah dua puluh menit berlalu asap pun mulai reda. Banyak manusia yang tergeletak di lapagan, kursi tribun, pintu keluar. Terutama yang paling parah di sisi selatan tribun. Banyak korban bergeletakan berlumuran darah. Selain itu di tribun barat, yang  banyak di huni oleh tribun bebas (tribun fully-seated)—orang tua hingga anak-anak— tidak kalah banyaknya korban. 

Satu jam berlalu. Lengang. Semua orang tertunduk, menangis melihat beberapa temannya tergeletak. Tim medis datang mengevakuasi korban-korban bergelimpangan. Kurang lebih 56 unit ambulan di kerahkan. 

Dengan mengerahkan seluruh tenaga tim medis mengevakuasi, memberikan pertolongan pertamanya kepada korban.

Mula-mula malam  yang begitu Ramai sorakan suporter berubah menjadi malam yang begitu mencekam, getir. Hingga dini Hari evakuasi tetap berlangsung. para tim medis dengan di bantu oleh beberapa TNI kesana kemari mencari korban yang belum tervakuasi. Menyusuri setiap sudut stadion. 

Menurut laporan Rumah sakit korban mencapai 100 orang. 

 

KAKI KAKI YANG BERGERAK TERADU-DOMBA

Seminggu setelah peristiwa itu para panitia penyelenggara mengadakan klarifikasi dengan pihak keluarga korban. Sebagian  pihak korban sudah berdamai dengan pihak panitia penyelenggara. Namun sebagian pihak lainnya merasa tidak puas dan  harus ada tuntuntan lebih lanjut. Karena sudah larangan dari fifa yang melarang Aparat menembakan Gas air mata pada tribun,  Terlebih sudah kadaluwarsa. 

klarifikasi berakhir dengan kericuhan. Beberapa oknum melempar benda apapun ke panggung klarifikasi. Tetapi aparat segera bertindak dan kemarahan massa bisa di kendalikan.

Satu Hari setelah konferensi itu mereka mendapatkan kabar bahwa aparat dan panpel yang terlibat sudah di tangani oleh pihak berwajib. 

Namun Dua bulan setelah itu terkonfirmasi bahwa tersangka sudah terbebas dari hukumannya. Informadi itu memicu adanya gerakan baru dari keluarga korban 

dan beberapa  komunitas suporter sepak bola. Seluruh lapisan suporter bersatu. Munutut keadilan. 

 " siapa yang akan bertanggung jawab atas peristiwa itu!!!" salah satu dari komunitas sepak bola meluapkan aspirasinya. Namun lagi dan lagi Aksi ujuk rasa itu di akhiri dengan kericuhan dan ketidak puasan.


KAKI KAKI YANG BERGERAK MELAWAN


1 oktober itu merupakan hari sakral sedunia bagi pencinta sepak bola. Panpel diam membisu, Aparat tidak tahu, pemerintah tutup mata. Menurut informasi yang di dapat sementara ketua panpel di hukum tidak boleh berkecimpung dalam kegiatan sepak bola. 

Hampir Seluruh elemen suporter di seluruh indonesia turut berduka cita atas peristiwa tersebut. Bahkan ada salah satu suporter yang rela mencari keadilan, menaiki sepeda hingga keliling pulau jawa. Tidak ada yang peduli.

Satu tahun telah berlalu tidak ada tindak keadilan satu pun.  Alih-alih melarang seluruh elemen suporter melakukan Away ( tandang ) dengan alasan takut terulangnya kejadian itu. Padahal adanya Away bertujuan untuk memeper erat persaudaraan anatar suporter sepak bola. 

Dua tahun berlalu, sama seperti tahun sebelumnya mereka masih membisu, seakan melupakan hal itu. 

Peristiwa itu merupakan peristiwa di adu dombanya manusia. Panpel memberikan 42.000 tiket pertandingan sedangkan kapasitas stadion hanya mampu 38.000 jiwa. 

Kini kejadian itu di abadikan setiap tahunnya sebagai tragedi sepak bola terbesar di dunia ke- 2 setelah di peru yang mengakibatkan sekitar 300 orang meregang nyawa. 

"KAMI MENUNTUT UNTUK MENGHAPUS LARANGAN AWAY KARENA DARI SITU KITA MENJALIN HUBUNGAN SILATURAHMI ANTAR SUPORTER. "


"DON'T STOP TALKING ABOUT KANJURUHAN"

Malam yang tak boleh kita hapus dari ingatan, stadion kanjuruhan bukan lagi menjadi panggung sepak bola. Tapi menjadi saksi bisu 135+ terenggut jiwa yang seharusnya pulang ke rumah.


 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama