Filosofi Celana Dalam
Oleh : Muhamad Arifin S.Hum
Tentang hal-hal yang tidak terlihat, tetapi menentukan kenyamanan hidup
Ada banyak benda di dunia ini yang ingin terlihat.
Mobil ingin mengilap.
Sepatu ingin bersih.
Jam tangan ingin diperhatikan.
Ponsel ingin memiliki kamera sebanyak mungkin.
Tetapi celana dalam tidak pernah punya ambisi semacam itu.
Ia bekerja diam-diam.
Tidak pernah muncul dalam foto wisuda. Tidak pernah dipuji ketika seseorang berkata, “Wah, keren bajumu.” Tidak pernah menjadi alasan seseorang mendapatkan penghargaan.
Padahal ia ada di sana.
Setiap hari.
Menemani manusia melewati panas, dingin, duduk, berdiri, berjalan, berlari, bahkan momen-momen ketika hidup terasa seperti tidak memiliki arah.
Dari celana dalam, kita belajar tentang kerendahan hati.
Sebab menjadi penting tidak selalu berarti menjadi terkenal.
Kadang-kadang, menjadi penting berarti berada di tempat yang tidak diperhatikan siapa pun dan tetap melakukan tugas dengan baik.
Namun celana dalam juga mengajarkan satu hal yang lebih dalam:
kenyamanan adalah bentuk kebahagiaan yang sering kita sadari setelah kehilangannya.
Tidak ada yang memikirkan celana dalam ketika semuanya baik-baik saja.
Tetapi ketika karetnya sudah longgar, jahitannya mulai mengganggu, atau ukurannya tidak lagi nyaman, tiba-tiba seluruh perhatian manusia tertuju kepadanya.
Begitulah hidup.
Kita jarang bersyukur atas sesuatu yang berjalan normal.
Kita baru menyadari betapa berharganya kesehatan setelah sakit.
Betapa berharganya tidur setelah begadang.
Betapa berharganya ketenangan setelah kekacauan.
Dan betapa berharganya celana dalam yang nyaman setelah memakai yang karetnya sudah seperti sedang melakukan demonstrasi kemerdekaan.
Maka jangan remehkan hal-hal kecil.
Sebab bisa jadi kebahagiaanmu hari ini bukan rumah besar, bukan uang banyak, bukan popularitas.
Bisa jadi kebahagiaanmu adalah:
celana dalam yang baru dicuci dan dijemur sampai kering sempurna.
Penulis merupakan (S1) Sarjana Humaniora jurusan Bahasa dan Sastra Arab