CANTIK-A
Oleh : Niha Nurfaticha
Pendar-pendar cahaya membawah meja-meja panjang hitam legam. Bersila espresso, dalgona, dan mocca. Bertatap pernik-pernik mata, setajam katana. Berbahasa tanpa koma, berdialektika dengan premisnya. Dia begitu anggun berbalut gamis-gamis coklat, kerudung silver bertulis "sicantik siapa yang punya". Hanya ada A yang kian terus bergelantung mengitari muka-muka mereka.
Sang pendar begitu malu tersisih, ia tak bisa merayu dengan bahasa puitiknya, ia hanya menuliskan prosa-prosa biru yang mengharu batinnya. la lupa bahwa rindun tak lagi sama atau persis seperti purba lalu. la hanya meminjam kata lewan buku-buku "Tuhan mati ditelan rindu", begitulah ucapnya kala ia tertelan mimpi utopia. Ada nada, ada rima, ada dia juga cita. Dilema beludru yang menukik kecam sembilu.
Empat mudoro'ah tak lagi dapat mengubah. Prefik, proposisi dan matrik dalam tulisannya. Apalagi tiap morfem yang ia gunakan, hanya selandai tangkai tuai.
Surianata dalam "Bulan jingga dalam kepala", tak lagi mampu mengambil alih cinta. la mampu membatasi A sebagai dilektika ia dan warta. Tak Alagi kabar, tak lagi mubtada, hanya tamanni dalam benak kepala.
Bersungguh-sungguh dalam gebu-deru, dalam pelurunya berusaha membidik agar Cantik tak terluka. Arbitrase sebagai landasan norma agar tetap ada jua, bukan semu. Memang sangat klise bagi kita yang tak memahami apa yang dimuka tertuang.
Dalam nalar nya, surianata bertanggung jawab, bahwa cantik tanpa A hanya akan menuai pro-kontra. Sebab bagi dirinya A adalah awalan huruf, hijaiyah maupun aji saka.
Cantik yang telah bersila, selesai membaca gagasan dan ide linier lawan katanya, berdiri dan beranjak untuk lekas memberi tip pada pada pendar. la mengerti selain dia yang memberi tak ada lagi empati di era kini. Hanya ada slogan basah-basi hampa arti. Begitu cantik selesai administrasi, ia berucap "Beruntung tak ada punya, bila ada milik siapa yang mencoba, apalagi bertukar rasa dengan manusia yang tak berkepala".
Surianata memejamkan kata-kata, ia bunuh empatinya, agar tetap fokus pada rencana. Bagi surianata, skeptisisme adalah cara terbaik untuk mengubur dalam-dalam perjumpaan, pada awan niskala. Baginya si cantik tetap harus tak ber-A dan berpunya.
Lirih angin melambai daun-daun senja, hijau hidup dengan segar. Penuh ereksi dan tak ada distorsi antara A dan mereka. Begitu menggoda bak dewi mitologi china.
Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Semester 3.
