Selangor, Malaysia – Kamis, 25 September 2025 – Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC), yang tergabung dalam program ITHLA ABROAD, baru saja merampungkan misi inspiratif di Mahad Al-Qur'an Darussalam Selangor (MADAS), Malaysia. Mereka menghadirkan dua sesi intensif yang menjadi kunci bagi para santri penghafal Al-Qur'an: penguasaan Bahasa Arab Aktif (Hiwar) dan Ilmu Shorof (Tashrīf).
Fondasi Komunikasi: Membangun Kemampuan Hiwar
Dalam sesi interaktif Pembelajaran Hiwar yang bertema التَّعَارُف (Perkenalan), para santri diajak langsung mempraktikkan percakapan dasar. Faiz, delegasi dari FUA UINSSC, menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi yang baik adalah prasyarat untuk menyelami kekayaan khazanah ilmu-ilmu Islam yang berbahasa Arab.
Melihat gairah dan keaktifan para santri, Faiz menyampaikan pesan yang mendalam dan memotivasi. "Untuk mencapai kemampuan berbicara Arab yang memukau, Anda harus memandang Bahasa Arab sebagai roh peradaban," tegasnya. Ia menekankan perlunya menguasai gramatika yang baik untuk fusha (Bahasa Arab klasik seperti dalam Al-Qur'an) dan kosakata yang luwes untuk percakapan sehari-hari. Ia berpesan, "Jadikan lisan Anda sebagai alat untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan."
Revolusi Kosakata dengan Ilmu Shorof
Setelah sesi komunikasi, para santri beralih ke sesi Pembelajaran القَوَاعِد (Tata Bahasa) dengan fokus pada Shorof (Tashrīf)—ilmu perubahan bentuk kata. Jika Nahwu (Sintaksis) dianggap sebagai arsitek kalimat, maka Shorof adalah 'pabrik kata-kata' yang sangat esensial.
Faiz menunjukkan betapa Shorof adalah ilmu yang dapat mengubah satu kata dasar (fi'il atau kata kerja) menjadi puluhan kata turunan yang kaya makna. Hal ini disambut antusias oleh puluhan santri yang merasa mendapatkan 'kekuatan super' untuk memperbanyak kosakata secara mandiri.
"Untuk memiliki Bahasa Arab yang baik dan memukau, Anda harus menjadi Mutasharrif (ahli Shorof) yang ulung! Jangan hanya menghafal, tapi pahami pola perubahannya," dorong Faiz. Ia menjelaskan bahwa penguasaan Shorof adalah jalan pintas menuju kefasihan, karena memberikan keluwesan dan kekayaan diksi yang luar biasa. "Ketika Anda mampu mengubah kata kerja sesuai waktu dan pelakunya tanpa berpikir lama, saat itu Hiwar dan tulisan Anda akan terlihat canggih dan memukau," tutupnya, memberikan dorongan besar untuk mencapai kemandirian dalam berbahasa Arab.
Dua sesi ini tidak hanya menambah keterampilan akademis, tetapi juga menumbuhkan kreativitas berbahasa pada santri MADAS. Dengan bekal Hiwar dan Shorof, para santri kini memiliki kunci mandiri untuk membuka dan memahami kosakata baru, memastikan mereka bisa menjadi penerus ilmuwan Muslim yang kaya akan diksi dan pemahaman.