Selangor, Malaysia – Kamis, 24 September 2025
– Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Ushuluddin dan Adab
(FUA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC), yang menjadi delegasi dalam
program ITHLA ABROAD, baru saja menuntaskan rangkaian sesi pembekalan Bahasa
Arab yang komprehensif di Mahad Al-Qur'an Darussalam Selangor (MADAS). Dalam
dua hari yang berkesinambungan, para santri diajak menaklukkan dua pilar utama
dalam penguasaan Bahasa Arab: Ilmu Nahwu (tata bahasa) dan Kemampuan Hiwar
(komunikasi aktif).
Membangun Fondasi Kokoh: Kekuatan Ilmu Nahwu
Sesi pertama difokuskan pada Ilmu Nahwu, yang
sering dijuluki sebagai 'Ayah' dalam tata bahasa Arab. Dipimpin oleh Faiz,
delegasi dari UINSSC, sesi Pembelajaran القَوَاعِد ini menyajikan pemahaman
fundamental tentang struktur kalimat dan I'rab (perubahan harakat akhir
kata).
Faiz menggunakan metodologi yang membuat
materi yang dikenal sulit menjadi mudah dan menarik, memicu antusiasme luar
biasa dari santri. Ia menekankan bahwa Nahwu adalah kunci untuk menghindari
kesalahan fatal dalam memahami teks Arab, terutama Al-Qur'an.
"Untuk menjadi pakar Nahwu yang memukau,
Anda harus mencintai I'rab! Nahwu adalah arsitek yang memastikan kalimat
Anda berdiri tegak dan sempurna," pesan Faiz dengan inspiratif. Ia
mengajak para santri menjadikan setiap kata dalam Al-Qur'an sebagai latihan
Nahwu. "Saat Anda mampu menjelaskan mengapa sebuah kata berharakat dhammah
atau fathah, saat itu Anda telah menjadi pembaca yang fasih dan
cerdas."
Dengan pemahaman Nahwu yang kuat, santri MADAS diharapkan tidak hanya sekadar menjadi Hafidz (penghafal) Al-Qur'an, tetapi juga menjadi Fahim (pemaham) yang mampu meresapi makna secara mendalam melalui ketelitian tata bahasa.
Jembatan Ilmu: Menguasai Bahasa Arab Aktif
(Hiwar)
Sehari setelah membangun fondasi Nahwu, para
santri beralih ke sesi interaktif Pembelajaran Hiwar (percakapan). Dengan
mengusung tema التَّعَارُف (Perkenalan), sesi ini mendorong santri untuk
mempraktikkan Bahasa Arab aktif sebagai kunci untuk mendalami khazanah
ilmu-ilmu Islam.
Faiz kembali menekankan pentingnya kemampuan
Hiwar sebagai prasyarat utama untuk mengakses ilmu. Melihat keaktifan santri
dalam praktik, ia menyampaikan pesan filosofis: "Untuk mencapai kemampuan
berbicara Arab yang memukau, Anda harus memandang Bahasa Arab sebagai roh
peradaban."
Ia mengingatkan santri untuk menguasai
gramatika yang baik untuk fusha (Bahasa Arab Al-Qur'an) dan kosakata
yang luwes untuk percakapan sehari-hari. "Jadikan lisan Anda sebagai alat
untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan," tegasnya, memicu motivasi santri
untuk mencapai kefasihan total.
Sinergi Nahwu dan Hiwar ini menjadi inti dari
program ITHLA ABROAD. Dengan bekal Nahwu sebagai fondasi yang mencegah
kesalahan (arsitek kalimat) dan Hiwar sebagai sarana untuk menyebarkan manfaat
(roh peradaban), santri MADAS kini memiliki modalitas ganda untuk menjadi
generasi yang tidak hanya menghafal, tetapi juga fasih, cerdas, dan mampu
menjadi penyebar ilmu yang efektif.